Saat ini saya memiliki kandang jaring lalat BSF ukuran 1 meter persegi dan tingginya 2 meter, setidaknya ini sudah cukup untuk mengawali kegiatan budidaya maggot. Tentu, keberadaan jaring lalat BSF ini menjadi hal yang sangat penting karena digunakan sebagai tempat untuk mengisolasi lalat BSF dan dipelihara secara intensif untuk diambil telornya.
Ketertarikan memelihara lalat BSF tentunya memiliki suatu tujuan. Memelihara ayam kampung dengan jumlah yang cukup banyak, ternyata juga menghasilkan limbah organik berupa kotoran ayam yang tidak sedikit. Jika dibiarkan dan tidak dikelola dengan bijak, maka akan berakibat pada adanya bau yang menyengat dan dikuatirkan juga akan menimbulkan penyakit pada ayam yang saya pelihara.
Demikian pula dengan limbah rumah tangga, dari kegiatan dapur dan sisa- sisa meja makan yang setiap hari terkumpul cukup banyak. Tentunya tidak bisa langsung dibakar jika kondisinya basah, jika dibuang ditempat sampah yang ada di belakang rumah. Alhasil, harus dipilah dan dikumpulkan pada wadah tersendiri untuk dikelola lebih lanjut.
Dari dua problem awal inilah, yang memunculkan ide untuk memelihara lalat BSF. Untuk diketahui lalat BSF (Black Souldier Fly) atau lebih mudahnya disebut dengan lalat tentara hitam, merupakan lalat penghasil maggot yang bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengolah sampah organik yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Untuk mewujudkan suatu tujuan yang ingin dicapai, tentunya saya harus menggali banyak informasi tentang cara memelihara lalat BSF. Untungnya semua itu ada di internet, dan ternyata banyak cara digunakan untuk bisa memelihara lalat BSF dengan baik dan menghasilkan telor lalat BSF yang maksimal. Dengan berbagai macam kendala dan tantangan yang menyertai disetiap cara pemeliharaan lalat BSF yang berbeda.
Dan bisa jadi saya akan menggunakan cara pemeliharaan yang berbeda, karena kendala dan tantangan pemeliharaan lalat BSF dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Mengawali pemeliharaan lalat BSF, saya sengaja tidak membeli telor lalat BSF dan kemudian ditetaskan. Jika ingin sesuatu yang cepat tentu bisa langsung membeli prepuppa dari peternak lalat BSF, yang bisa dipesan secara online di marketplace atau langsung beli ke peternak dengan harga yang lumayan mahal (dengan iming- iming bimbingan beternak lalat BSF sampai sukses).
Lalu, bagaimana cara mendapatkan telor lalat BSF dengan jumlah yang cukup tanpa membeli?.
Keberadaan lalat BSF memang luput dari perhatian karena kita lebih sering dan lebih familiar melihat lalat hijau yang hinggap sampah organik dan kotoran ayam. Meskipun sebenarnya jika diamati lebih teliti, sesekali akan terbang melintas lalat BSF. Hal ini dikarenakan bentuk lalat BSF lebih mirip dengan lebah, yang memiliki postur tubuh memanjang dan warna hitam.
Lalat BSF sangat menyukai bau menyengat dari sampah organik, dan akan meletakkan telornya disekitar sampah organik pada celah- celah sempit yang tidak terlihat. Jangan heran jika anda melihat ada ayam yang mengobrak- abrik sampah yang tertimbun ditempat sampah dan memakan sesuatu yang sering kita menyebutnya belatung, yang sebenarnya itu adalah maggot.
Rasanya tidak mungkin harus berebut dengan ayam untuk mengumpulkan maggot dengan membongkar sampah yang tertimbun ditempat sampah. Harus ada cara yang lebih baik dan sederhana, untuk bisa memancing lalat BSF liar agar mau bertelor dan menetas ditempat khusus dan lebih terkontrol.
Cara pertama yang paling sedehana adalah dengan menggunakan ember yang berisi sampah organik dan kemudian diletakkan pada tempat yang teduh dan terlindung dari hujan. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu, maka di ember yang berisi sampah organik itu akan terlihat maggot- maggot berukuran sangat kecil.
Mengingat, bahwa saya ingin mendapatkan telornya?. Maka, saya memodifikasi cara pertama dengan menempatkan eggis atau tempat untuk bertelor lalat BSF diatas sampah organik yang ada diember. Cara kedua ini tentunya membutuhkan waktu yang lebih singkat, biasanya setelah dua hari akan ada telor yang diletakkan di lobang- lobang kardus yang sementara ini saya gunakan sebagai eggies.
Ternyata tidak semua lalat yang hinggap di sekita media jebakan tersebut mau bertelor di eggies kardus berlubang, bahkan lebih banyak terlihat masuk ke media jebakan dan langsung bertelor di media sampah organik. Hal ini bisa dilihat pada cara yang pertama, banyak sekali baby maggot di bagian bawah media jebakan.
Setelah beberapa hari mengumpulkan telor bsf liar, barulah kemudian mencoba melakukan menetaskan telor bsf dengan menggunakan wadah penetasan sederhana dengan media tetas berupa voor ayam basah.
Telor bsf akan mulai menetas setelah tiga hari, dan pada saat itu pula mulai bisa ditambahkan media pakan berupa sampah organik yang mudah membusuk ataupun buah- buahan busuk. Akan lebih baik, jika media pakannya sudah dihancurkan terlebih dahulu atau paling tidak dalam bentuk rajangan dengan ukuran yang kecil.
Karena pertumbuhan maggot ini cukup cepat, maka kebutuhan pakan berupa sampah organik tentunya sangat banyak. Bahkan, saya mengambil sampah organik dari Tempat Penimbunan Sampah Di Pasar Jepon sebanyak 10 Kg setiap dua hari sekali selama sebulan penuh sampai terlihat maggot- maggotnya berubah warna menjadi kehitaman dan bermigrasi keluar dari wadah pemeliharaan atau biopond.
Sambil menunggu maggot yang bermigrasi terkumpul banyak, saya mulai mempersiapkan kandang jaring BSF. Saya membeli dan membuat rangka kandang jaring bsf ukuran 1m x 1m x 2m yang saya kira sudah cukup sebagai langkah awal untuk memelihara lalat bsf. Beberapa sarana penunjang lainnya juga sudah ada didalam kandang jaring, seperti daun pisang kering, kayu eggies dan tempat untuk menyimpan prepuppa maggot.
Maggot yang bermigrasi disebut juga prepuppa maggot, dengan ciri warna kehitaman dan tidak mau lagi memakan media pakan organik. Karena yang dibutuhkan adalah tempat bersembunyi untuk bermetamorphosa, mulai dari prepuppa, puppa dan kemudian menjadi lalat BSF.
Proses metamorphosanya berlangsung selama beberapa hari, namun biasanya setelah 7 hari sejak migrasi akan terlihat lalat bsf muda mulai bermunculan di kandang jaring bsf. Dan seterusnya, setiap hari akan bermunculan lalat bsf baru yang akan menempel di didinding jaring dan memenuhi seluruh bagian kandang jaring.
Kapan Lalat BSF akan mulai bertelor?. Setelah lalat muda mulai bermunculan cukup banyak, maka yang harus dilakukan adalah merawat lalat bsf ini dengan memberikan pakan berupa cairan manis. Yang saya lakukan adalah setiap pagi dan sore hari menyemprot bagian dinding kandang jaring dengan menggunakan spreyer yang sudah terisi air gula/ air saja juga tak masalah.
Setiap hari dilakukan penyemprotan sebagai cara untuk memberi makan untuk lalat BSF. Dalam kondisi suhu udara yang ekstrim, penyemprotan air bisa dilakukan hingga 3 - 4 kali sehari.
Ciri- ciri lalat BSF akan mulai bertelor, jika terlihat di dalam kandang jaring ada pasangan- pasangan lalat bsf mulai kawin. Setelah itu akan ada lalat- lalat bsf yang hinggap di eggies kayu dan memasukkan bagian ekornya kedalam celah- celah sempit di tumpukan kayu eggies. Setelah itu, akan ada lalat- lalat bsf yang mati memenuhi bagian bawah jaring kandang.
Umur lalat bsf memang sangat pendek, antara 7 hari - 10 hari. Lalat jantan akan mati, setelah mendapatkan pasangan dan kawin. Demikian pula yang betina, akan menyusul mati, setelah bertelor.
Karena pendeknya umur lalat bsf, maka saya harus menjaga perputaran ini agar tidak putus. Dengan memanen telor bsf setiap tiga hari sekali dan sesegera mungkin menetaskannya. Demikian pula dengan biopond pemberasan dan biopond migrasi harus terisi dengan maggot- maggot. Sebagai langkah awal, proses perputaran ini harus tetap terjaga.
Tujuan utama dari memelihara lalat bsf ini adalah agar menghasilkan maggot yang bisa dimanfaatkan untuk membantu mengurangi volume sampah yang ada di tempat penimbunan sampah di pasar jepon. Daripada hanya diangkut ketempat lain dan ditimbun lagi tanpa dimanfaatkan sama sekali, akan lebih baik jika di manfaatkan untuk hal lain yang lebih meenguntungkan.
Rencana jangka panjangnya, tentunya berkeinginan untuk memiliki kandang jaring BSF yang lebih besar lagi dan tentunya akan membutuhkan sampah organik dari tempat penimbunan sampah di pasar jepon lebih banyak lagi yang akan saya ambil setiap hari.